Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Al Qur'an, 21:30)
SMS 1: +62-85624799190
SMS 2: +62-81395271020
Phone 1: +62-22-5418435
Phone 2: +62-22-76442307
VOIP: 114911 (Read Me First!)
JL.Kopo Cirangrang Babakan Baru I
RT 01/04 No.29 Margasuka
Bandung 40225
Our Agents
Jakarta Barat:Ibu Ida (081585122283)
Jakarta Timur:Ririn (08158871852)
Depok:Lusia (0818604002)
Cirebon:Latpitorini (085864514269)
Sampit:Ariyanti (08124406198)
Pekanbaru:Herlina (081268711639)
Kuala Lumpur:Maya (+60-193055013)
Other City(30+)
Pembayaran
KCU A.YANI, Bandung
a/n Lusi Amaliya
no rek: 437 072 4615
Unit Kopo Elok Bandung
a/n Widy Jantiko, SE
Nomer Rekening 0773-01-006451-53-9
KCP Bandung Binacitra
a/n Widy Jantiko
Nomor Rekening
130-00-1022508-7
put my link on your blog (sidebar or post, up to you), every click on my link will show your blogs on my Top 15 Visitor Referrer automatically.
Link to Us!
Saya pernah membaca buku yang judul bukunya "Rahasia bisnis orang china" yang di karang oleh pengusaha sukses dan kolumnis ternama malaysia: Mr.Ann Wan Seng,dan di indonesia diterbitkan oleh penerbit mizan, setelah membaca samapai tuntas, Rasulullah memang benar menyuruh kita belajar mencari ilmu sampai ke negeri china.
Prinsip terpenting dalam praktek yang terjadi di sekitar kita sehingga di indonesiapun kenyataanya tidak beda dengan malaysia, etnik lain seperti, sunda,jawa,madura,padagang dsb masih jauh kalah dibandingkan dengan etnik china dalam berbisnis. sekaranglah saatnya kitapun belajar dari saudara kita ini yang berada dekat dengan kita untuk bersimbiosis dan saling mendukung untuk menguatkan perekonomian indonesia.Ringkasan mengenai artikel buku tersebut silahkan kunjungi BELAJAR BISNIS DARI SAUDARA ETNIS CINA
Setelah membaca buku tersebut dan artikel blog BELAJAR BISNIS DARI SAUDARA ETNIS CINA saya jadi ingin curhat. Ya, yang saya rasakan sebagai seorang pedagang asli Indonesia buku itu memang banyak benarnya. Mulai dari persaingan sehat antar pedagang tionghoa, maupun jaringan yang mereka bentuk. Kontras sekali dengan kebanyakan pedagang Indonesia. Ya yang saya rasakan, contoh saya mengambil suatu produk yang diproduksi di bandung, dikelola orang home Industri di salah satu kabupaten bandung, di produksi oleh orang tuanya, dan dipasarkan oleh anak-anaknya entah berdagang langsung maupun melalui online. Yang menarik dalam cara berdagang, adalah mereka tidak segan-segan menurunkan harga dibawah harga pasaran yang terbentuk, karena bargaining power mereka dalam menentukan harga (monopoly).
What's the point? Banyak pedagang gagal karena besikap "semangat sesaat" atau istilah lainya maaf hangat-hangat tahi ayam dan sekedar ikut ikutan,Jika orang lain berdagang diapun ikut berdagang,sementara Konsep perdagangan etnis china lebih berdasarkan pada konsep simbiosis yaitu setiap pedagang saling melengkapi.Mengikuti konsep ini jika ada pedagang yang menjual barang-barang kecil,pedagang lain akan menjual pakaian,dan juga keperluan yang lain.Agar pedagangan barang kecil itu bisa hidup maka etnis china akan membuka restoran dikawasan yang berdekatan letaknya dan semua bahan makanan akan diperoleh dari toko-toko yang ada disekitarnya dengan demikian kawasan tersebut akan maju dan berkembang karena sudah terwujud sikap saling membatu dan mendukung dikalangan pedagang.(BELAJAR BISNIS DARI SAUDARA ETNIS CINA)
Ya saya ingin mengangkat isu tersebut sebagai suatu pengalaman pribadi yang saya rasakan. Saya masuk dan memperkenal diri sebagai seorang pedagang online dengan sistem yang istilahnya seperi piramid dalam rangka melindungi agen-agen reseller saya dengan sistem discount yang berbeda-beda untuk setiap pembelian minimal. Namun apa yang terjadi. Ya anak-anak produsen tersebut ikut-ikutan berjualan online, pada mulanya saya senang sekali. Karena saya juga mengajarkan berdagang online kepada para pedagang di pasar. Seperti Rahmajaya Fashion yang sekarang sudah berjualan online via facebook memasarkan pakaian dengan harga sangat jauh di pasar Baru Bandung yang nota bene ditargetkan untuk pedagang atau yang berjualan lagi.
Namun yang terjadi justru persaingan tidak sehat. Setelah sistem yang saya bentuk. Salah satu oknum menjual harga dengan harga pabrik yang jauh dibawah harga yang terbentuk untuk hanya membeli satuan, Ironis. Otomatis Para Reseller-reseller dari agen-agen saya kehilangan mata pencaharian mereka karena banyak pelanggan yang lari.Jadi tidak ada sinergi dari keluarga produsen dengan pelanggan-pelanggan setia mereka.
Ini sangat kontras dengan yang saya rasakan ketika berbelanja kain flanel di daerah otista bandung. Mau belanja ke toko mana saja yang mayoritas etnis tionghoa. Harga mereka sama semua dan kalaupun bisa ditawar hanya 500 perak saja kurangnya.
Mudah-mudahan bisa menjadi renungan dan pemikiran untuk memajukan UKM dan perekonomian masyarakat terutama etnis sunda, melayu, jawa dan etnis-etnis lainnya di Indonesia yang Plural. Mudah-mudahan diantara kita terjalin hubungan dagang yang saling menguntungkan semua pihak bukan keuntungan pribadi semata.
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga" (QS Ath Thalaq 2-3).